No Expectation

Entries categorized as ‘Uncategorized’

Old Times with Mother

April 27, 2009 · Leave a Comment

I miss the old days when I used to watch a lot of movies on television with my mother. We used to stay up late watching movie programs on television such as Layar Emas on RCTI, Selasa Drama, Rabu Misteri, Kamis Futuristis on SCTV.  I remember such movie we watched like Halloween, Poltergeist, Mommy Dearest, American Ninja, Princess Caraboo, Total Recall, Flight of the Navigator, The Last Emperor and lots of drama movies that I can’t remember now. Even when the economic crisis strike, and local television found a hard time to import such Hollywood movies, I still manage to show her some good movies on VCD.

I even remember the time when she take me and my brother to the movie theater to watch such movies like Ace Ventura and Street Fighter. For Street Fighter it’s actually more likely that we take her.

But now sinetron has grown to numerous. And my mother keep watching stuff that I really hate. She even manage to have parabola so she can watch foreign TV programme where they only speak Taiwanese. Now, it’s hard for me to find a good times to spend time with my mother like the old time when we watches lots of good movies. Even American Ninja.

Categories: Uncategorized

Ennio Morricone’s Peace Notes and Wong Kar-Wai’s Fallen Angels

April 14, 2009 · Leave a Comment

Being a big fans of Morricone, I still listen to the bootlegged mp3 version of this concert every night. Finally i get to see the DVD version and it comes with 2 CD’s of the concert with more songs than ever.

ennio-peace-notes-small

The story of Fallen Angels was intended to be part of Chungking Express. I love Wong Kar-Wai’s movie very much.

fallen-angles-small

Categories: Uncategorized

Shadows In Paradise (1986)

April 8, 2009 · Leave a Comment

shadowsinparadise1

Sutradara negeri asal Nokia Aki Kaurismäki seringkali mengusung tema yang repetitif dalam setiap filmnya, yaitu sebuah tragedi dalam kemasan komedi tentang kaum pekerja kecil berkutat dalam kehidupan mereka yang monoton. Kemonotonan ini diadaptasi dengan sangat eksplisit oleh Kaurismaki. Tata kamera yang sangat statis, penampilan fisik para aktornya yang tidak menarik, akting yang seperti mayat hidup, dialog yang sangat baku, dan musik yang muncul hanya sesekali saja (meskipun efeknya selalu sangat penting di film Kaurismaki). Luar biasanya, semua rangkaian itu menciptakan formula yang sangat sempurna untuk menyampaikan cerita-cerita dalam film Kaurismäki.

Shadows In Paradise merupakan babak pertama dari 3 film yang disebut sebagai Proletariat Trilogy/Workers Trilogy (dua lainnya adalah Ariel dan Match Factory Girl). Film ini bercerita mengenai Nikander (Matti Pelonpää), seorang pria kesepian yang bekerja sebagai pengemudi truk sampah. Nikander menemukan arti hidupnya semakin menggantung ketika sahabat baiknya mendadak meninggal terkena serangan jantung. Namun harapan datang ketika ia bertemu dan jatuh cinta dengan seorang wanita yang bekerja sebagai kasir supermarket bernama Ilona (Kati Outinen). Di titik inilah Nikander belajar lari dari kemonotonan hidupnya dengan berjuang merebut hati Ilona.

Shadows in Paradise menandai kerja sama pertama Aki Kaurismäki dan aktor Kati Outinen. Bersama dengan Matti Pelonpää, kerjasama ini akan terus berlangsung di belasan film berikut. Outinen dan Pelonpää yang berwajah komikal memberikan sentuhan ajaib dalam film Kaurismaki. Disini hubungan romantis kedua karakter yang mereka bawakan digambarkan sangat wajar. Nikander yang pasif dan membosankan, serta Ilona yang pasif namun menyukai petualangan.

Kehidupan dua pekerja kecil tersebut dihiasi dengan penataan kamera yang artistik, dan musik rock n’ roll. Seperti biasa, Aki Kaurismäki memperlakukan tiap frame adegannya bagai sebuah potret atau lukisan. Komposisi warna dan pencahayaannya sangat indah dan sulit ditemui di film-film lain. Musik rock n’ roll berperan lebih dari hanya meningkatkan emosi penonton, disini rock n’ roll menentukan langkah hidup Nikander selanjutnya. (FOO)

Categories: Uncategorized

The Phantom Carriage (1921)

April 7, 2009 · Leave a Comment

Film The Phantom Carriage dikenal dengan effortnya untuk menghadirkan spesial efek alam supranatural. Victor Sjöström sang sutradara menggunakan teknik double exposure yang sebenarnya sederhana namun memakan waktu, mengingat sangat terbatasnya teknologi perfilman pada waktu itu.

Cerita The Phantom Carriage berkembang dari tahayul bahwa orang yang terakhir kali meninggal pada malam tahun baru, jika ia adalah seorang pendosa, maka akan bertugas untuk mengumpulkan arwah-arwah pendosa lain sampai malam tahun baru berikutnya.

Tepat menjelang tahun baru, ajal menjemput protagonis dalam kisah ini yaitu seorang gelandangan bernama David Holm (diperankan sendiri oleh Victor Sjöström), karena kekecewaan dalam hidupnya ia menjadi seorang pemabuk yang menghabisakan sisa hidupnya dengan hidup di jalanan, dan mengabaikan semua simpati dan kasih sayang dari orang-orang sekelilingnya, termasuk dari seorang suster Bala Keselamatan yang ikhlas mengasihi dan ingin memperbaiki hidup David.

Sesaat setelah ia meninggal, seorang teman lama David yang ternyata adalah pengumpul arwah dari tahun sebelumnya datang mengunjungi David. Mengingatkan ia akan kisah hidupnya, apa yang membuat hidupnya begitu destruktif dan membawanya mengunjungi orang-orang yang hidupnya dihancurkan oleh David termasuk sang suster dan anak dan istri yang dulu amat disayanginya.

Dalam usia perfilman yang masih sangat muda, Victor Sjöström mampu menghadirkan kisah bernilai moral tinggi tanpa bersikap naif atau menggurui penontonnya. Dengan cerita yang mengambil tradisi Christmas Carol, pengaruhnya banyak ditemui dalam film-film modern yang lebih populer. Hal yang patut dikagumi, mentor Ingmar Bergman ini mampu mengemas kisah yang sebenarnya cukup mendongeng menjadi film moral yang nilai sosialnya sangat dekat dengan  penontonnya.

Categories: Uncategorized
Tagged: ,

The Beatles Wannabe

February 24, 2009 · 2 Comments

This picture taken last December while I’m having a good time on Cirebon. Looks like I’m John Lennon.

Categories: Uncategorized
Tagged:

Sugar Cube on Bleu

February 20, 2009 · 1 Comment

Suka banget sama satu adegan dari film Trois Couleurs: Bleu ini,

sugar cube

Detail terhadap balok gula dan kopi menggambarkan kesendirian Julie, dimana semua hal -kecuali dirinya- menjadi tidak penting, termasuk orang-orang dari masa lalu atau masa depan yang bisa membuatnya sakit.

Categories: Uncategorized
Tagged: ,

Fahrenheit 451 – Dunia tanpa buku

October 16, 2008 · 2 Comments

Menonton Fahrenheit 451 meningatkan akan… lingkungan gue sendiri. Bayangkan, jika kita tinggal di dunia dimana pemerintah melarang keras adanya buku (dalam pengembangannya mungkin juga film-film independen atau arthouse, hehe). Setiap orang hanya diizinkan memperoleh informasi dan pengetahuan dari TV yang disiarkan oleh pemerintah saja. Otomatis semua manusia akan seperti… sekarang ini. Semua manusia akan berpikir sama. Hanya mengikuti apa yang didikte oleh budaya populer, berpikiran sempit, dll. That’s why there’s so much otoku, Japanese wannabe, and teenager having haircut like Giring these days.

Kalau di film ini, Guy Montag merupakan petugas pelacak dan pembakar buku handal, ia sebenernya tidak pernah tau tujuan sebenarnya dari tugasnya itu. Namun suatu hari, seorang wanita yang berperilaku unik membuat Guy mempertanyakan pekerjaannya itu.

Guy secara diam-diam mulai mambaca buku (yang dimuai dengan David Coperfield karya Charles Dickens) dan mulai merasakan ada kehidupan seorang individual dalam dirinya.

Categories: Uncategorized

François Truffaut’s Antoine Doinel

October 5, 2008 · Leave a Comment

My first encounter with Truffaut’s work, I found this Antoine Doinel series as my favourite films. I like how Truffaut was capable to make a romantic adventure without being exaggerating and sentimental. And also the often bizzare twist and comedy.

I don’t undertand why critics claimed Les Quatre Cent Coups to be the best of the series. For now, I personally think that the later sequels was better, especially for Domicile Conjugal.

Things I like about Antoine Doinel series:
1. Bizzare changes of Antoine’s job: Record presser – Army – Hotel clerk – Private detective – Television repairer – Flower painter – Remote control player,
2. He married his childhood friend,
3. At one point, Antoine Doinel talks about how he hates his mistress to his wife,
4. The mysterious character in the neighborhood that spread the silence,
5. Lots of quality talk about nothing, this one I can see it on Tarantino’s work.

Categories: Uncategorized

Ennio Morricone – Note di Pace

October 4, 2008 · 1 Comment

Pas liburan browsing2, ketemu album baru dari Ennio Morricone. I’m a big fans. Menurut gue Ennio punya kekuatan dari musiknya yang memorable, selalu nempel di kepala.

Note di Pace ini album konsernya yang berisi lagu-lagu legendarisnya yang seluruhnya diambil dari score soundtrack yang pernah dia bikin.

Dengan menggunakan aransemen (lebih ke peralihan alat musik) yang baru, lagu-lagu disini terasa lebih elegan dan nendang.

Lagu-lagu melankolis dari Once Upon A Time in the West, Giu la testa, dan terutama Cinema Paradiso sanggup membuat saya terharu setiap kali mendengarnya (ingat sayatan biola solo di akhir lagu cinema paradiso – For elena). Hiks hiks.

Lagu-lagunya:

1. Tema Di Deborah (dal Film C’era Una Volta In America) 4:25
2. Addio Monti (dal Film I Promessi Sposi) 3:00
3. Vatel 4:53
4. H2S 2:36
5. Il Clan Dei Siciliani 3:32
6. Metti, Una Sera A Cena 3:53
7. Cinema Paradiso 5:53
8. Here’s To You (Dal Film Sacco E Vanzetti) 4:04
9. Il Buono, Il Brutto E Il Cattivo – Titoli 2:47
10.C’era Una Volta Il West 3:21
11.Giu’ La Testa 3:40
12.L’Estasi Dell’Oro (Dal Film Il Buono, Il 3:22
Brutto E Il Cattivo)
13.Indagine Su Un Cittadino Al Di Sopra Di Ogni 3:03
Sospetto
14.A Brisa Do Coraτao (Dal Film Sostiene Pereira) 3:17
15.La Classe Operaia Va In Paradiso 3:46
16.Vittime Di Guerra 8:44
17.Abolisson (Dal Film Quemada) 4:27
18.Gabriel’s Oboe (Dal Film Mission) 2:17
19.Falls (Dal Film Mission) 2:57
20.On Earth As It Is In Heaven (Dal Film Mission) 3:53

Ketemu download rapidsharenya, tapi belom pernah nyoba:
http://rapidshare.com/files/14…..1.rar.html
http://rapidshare.com/files/14…..2.rar.html

Categories: Uncategorized

Bikin Klip 17 Agustusan

August 5, 2008 · Leave a Comment

Hehe. Libur tanggal 30 kemaren gue bikin iklan gereja buat acara 17 agustusan, syutingnya di Lapangan Ukrida dari jam 9 pagi sampe 12 siang. Tapi molor, jam 10 baru mulai syuting.

Konsepnya nyuri dari newsreel jadul, such as intronya Citizen Kane. Di depannya disisipin klip yang diambil dari youtube.

Hasilnya bisa dilihat disini: http://bee-tube.binus-access.com/play.php?vid=1750

Produser: Linawati Legawa
Sutradara, Editor dan Narator: Fuat Zakiah
Penulis naskah: Fuat Zakiah, Indra Purnomo, Ei
Pemain: Indra Purnomo, Ei, Bernard, Jefry, Albert, Linawati Legawa, Icha
Peralatan: Bernard, Jefry, Phei Phei, Ei, Linawati Legawa

Categories: Uncategorized